KECINTAAN NEGERI YANG TERLUPAKAN
Cerpen Karya Sofiatun Nisa
Mentari mulai kembali ke peraduannya. Digantikan oleh sang rembulan yang meski tak secerah mentari, tetapi tetap menawan dan memperindah mataku ketika melihatnya. Yang saat itu seolah-olah mendorongku hingga aku membayang, apa yang akan terjadi esok hari dalam hidupku dan Indonesiaku.
Cerpen Karya Sofiatun Nisa
Mentari mulai kembali ke peraduannya. Digantikan oleh sang rembulan yang meski tak secerah mentari, tetapi tetap menawan dan memperindah mataku ketika melihatnya. Yang saat itu seolah-olah mendorongku hingga aku membayang, apa yang akan terjadi esok hari dalam hidupku dan Indonesiaku.
Menurut rencana, aku dari siswi yang masih duduk di kelas 2 SMA Internationa Islamic Boarding School bersama beberapa kelompok kawanku akan terbang selama beberapa hari ke Negeri Jiran, yaitu Kuala Lumpur, Malaysia. Kami akan mengikuti kegiatan Festival Seni dan Kebudayaan Antar Negara SeAsia Tenggara. Kegiatan ini mengharuskan kepada Negara yang ikut serta dalam kegiatan ini untuk menampilkan dan memperkenalkan kebudayaan yang ada di negara tersebut. Sarah, kawan terdekatku menghampiriku dari belakang, suara langkah kakinya yang terdengar karena lantai balkon asramaku terbuat dari papan dan bayangan dirinya menarikku untuk memutar kepala dan mengalihkan pandanganku kepadanya.
“Kania, kamu belum tidur juga? Apa yang sedang kamu lamunkan?”
“ Tidak, hanya sedang menikmati pemandangan indah di langit sana.”
“ Kamu bohong, pasti kamu sedang melamunkan untuk keberangkatan kita besok.”
“Ya sudahlah jika kamu memang sudah tahu.”
“ Tapi aku tak tahu kamu akan menampilkan apa.”
“Aku akan menampilkan Tari Piring dari daerah asalmu itu.”
“Wah! Kamu hebat. Itu sangat bagus.”
“Ya, do’akan dan dukung aku terus saja.”
“Pasti Kan, sekarang lebih baik kita tidur dan beristirahat agar besok kita tidak terlalu lelah.”
“Ya Sarah.”
Kamipun segera menuju kamar untuk beristirahat.
![]() |
| Cerpen Kritik Sosial - Kecintaan Negeri yang Terlupakan- |
Suara ayam berkokok berpadu bersama kicauan burung yang berarakbersama
awan-awan yang menjatuhkan air embun ke bumi membuat segar dan begitu
indah pagi ini yang diawali dengan teriakan Sarah yang membangunkanku.
Akupun segera bersiap-siap untuk kebarangkatan kita hari ini ke Kuala
Lumpur, Malaysia. Ketika kami sampai di bandar udara, ternyata
keberangkatan pesawat yang akan kami tumpangi baru akn akan terbang satu
jam kemudian, sehinnga kami harus menunggu lagi. Akhirnya pesawat
kamipun terbang, dan mendarat kembali dengan selamat. Kami langsung
menuju hotel yang akan menjadi tempat peristirahatan kami selama kami
berada disini. Kamipun langsung membereskan barang-barang yang kami bawa
dan mempersiapkan segala sesuatu untuk penampilan kami besok.
Alunan nada yang terdengar di dalam gedung sampai ke depan pintu gerbang gedung tepat dimana aku berdiri saat ini, sungguh telah membuat jantungku berdetak lebih kencang dari, sebelumnya seperti genderang yang akan berperang. Namun aku teringat akan pesan ibuku. Beberapa helaan nafas yang cukup menenangkan hati dan ketegangan jiwa ini. Aku pun melangkahkan kaki ke dalam gedung yang megah dan berkilauan lampu-lampu ini. Aku duduk di bangku jajaran kedua dari pengunjung. Terlihat siswa dan siswi dari berbagai negara memenuhi seluruh isi gedung.
Setelah beberapa banyak negara yang menampilkan kebudayaan mereka, tibalah saatnaya kelompokku untuk menampilkan Tari Piring. Bersyukur aku kepada Tuhan, karena penampilan yang kami tampilkan berjalan sukses dan mendapat respon baik dari para pengunjung.
Sehabis semua negara menampilkan kreasi seninya, kegiatan dilanjutkan dengan mempersentasekan kebudayaan masing-masing negara di stand yang telah disiapkan oleh panitia. Persentase ini di tujukan kepada para pengunjung yang mengunjungi stand milik negara mereka tersebut.
“Kan, kmu ada jadwal buat jaga stand tidak?”
“Tidak juga sih.”
“Sar, aku bosan nih.”
“Terus bagaimana?”
“Bagaimana kalau kita berkeliling gedung ini, dan melihat-lihat stand milik negara lain juga?”
“Tapi aku lelah sekali.”
“Ayolah, sebentar saja Sar.”
“Baiklah.”
Akhirnya, akupun pergi dari stand untuk berkeliling gedung untuk melihat-lihat stand milik
negara lain.
Sampailah kami pada stand yang diselimuti oleh para pengunjung. Karna aku penasaran, aku dan Sarah mengunjungi stand tersebut. Alangkah terkejutnya diri ini ketika yang ku lihat ini stand milik tuan rumah yaitu, Malaysia. Yang membuat kami terkejut adalah ketika yang mereka jajakan adalah beberapa kebudayaan yang berasal dari tanah air kita dari berbagai aspek, dari pakaian adat,musik,juga makanannya.
“Kania,lihat ! itu kan rendang daging sapi yang suka di masak ibuku di rumah”
“Iya benar, itu juga permainan congklak yang sering aku mainkan saat kecil dulu.”
“Kan, perasaanku saat ini bagaikan seorang ibu yang kehilangan anaknya.”
“Ya, begitu sedih dan merasa sangat kehilangan.”
“Lalu , apa yang harus kita lakukan?”
“Akupun bingung, yang pasti kita tak bisa membatu terus seperti ini.”
“Ya sudah, lebih baik kita minta bantuan kepada yang lainnya.”
“Benar , lalu kita tegur mereka.”
Akupun kembali ke stand milik kami. Terlihat kekesalan dan kemarahan dalam wajah mereka ketika Sarah menceritakan semua kejadian yang baru saja kami alami. Dan sepakat untuk menghampiri dan menegur mereka. Apalagi dari kami ada Ila yang berasal dari keturunan Malaysia.
Kamipun sampai tepat di depan stand milik Negara Malaysia. Sepertinya mereka sudah mengetahui jika kami adalah siwi dari Indonesia. Karena mereka terlihat menampakan wajah kegelisahan. Kamipun memulai pembicaraan yang dimulai dari Ila.
“Permisi, perkenalkan kami siswi dari Indonesia.”
“Ya, selamat datang di negara kami.”
“Kami sangat memohon maaf, kami hanya ingin memastikan. Bukanakh yang anda jajakan ini berasal dari negara kami, Indonesia?”
“Maaf sekali anda memang benar. Seharusnya kami yang meminta maa, karena ini semua adalah kesalahan kami.”
“Tetapi mengapa anda melakukan ini semua terhadap tanah air kami?”
“Sebenarnya kami hanya ingin membantu memperkenalkan dan menyebarluaskan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat dunia.”
“Tak ada cara lain kah?”
“Kami atas nama Negara Malaysia sekali lagi memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang terjadi hari ini. Dan kami tak akan mengulaginya lagi.”
Kami memilih menyudahi pembicaraan ini dan kembali ke stand milik kami.
Rupanya kawan-kawanku ini belum puas dengan menegur mereka, hingga ketika kita sudah sam pai di depan stand mereka masih membincangkan kejadisn tadi.
“Ila, mau sampai kapan kita disini?”
“Rencananya, kita akan tinggal disini tiga hari dan tiga malam. Dan hari esok akan kita pakai untuk berkeliling Kuala Lumpur.”
“Lalu, jadinya bagaimana?”
“Karena kita semua sudah muak dengan semua yang telah terjadi. Kita diam disini akan menambah luka kita. Sebaiknya kita pulang ke Indonesia esok pagi.”
Kami pulang dan beristirahat di hotel dengan dibalut rasa kecewa. Dan esok harinya pun kami telah kembali ke tanah air. Diatas roda berputar yang kini membawaku dari bandara ke asrama, aku masih terbayang kejadian kemarin yang terekam oleh mataku dan disimpan di pikiranku. Bagai nasi yang telah menjadi bubur, apa yang telah terlanjur terjadi tak bisa kita hindari lagi. Yang kini ada hanyalah penyesalan dan kesedihan. Kita tak harus menyalahkan orang lain, karena sebenarnya kitalah yang salah. Kita tak pandai menjaga dan merawat semua yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita. Kita malah lebih bangga dengan mengikuti kebudayaan bangsa asing yang entah dari mana. Pelajaran disekolah yang mengajarkan tentang Seni dan Budaya Indonesia pun hanya ada 2 jam pelajaran selama satu pekan. Ekstrakulikuler yang menmgajarkan tentang Kesenian di Indonesia pun sangat sedikit peminatnya, apalagi di kalangan remaja. Ini sangat ironis sekali,dan jika ini dibiarkan bisa jadi semua kebudayaan yang dimiliki Indonesia habis direbut bangsa lain tanpa sepengetahuan rakyat Indonesia sendiri. Aku ingin sekali memperbaiki semuanya dan semoga langkah pertamaku ini bisa berdampak baik untuk Indonesia.
“Sar, apa kamu setuju?”
“Untuk apa?”
“Aku ingin menyampaikan pesanku lewat surat kepada Presiden Republik Indonesia .”
“Apa yang akan kau sampaikan?”
“Aku ingin meminta bantuan kepada beliau terhadap kejadian kemarin dan memperbaiki semuanya.”
“Tentu, aku sangat setuju. Kapan kau akan menulisnya?”
“Sepaertinya besok, setelah kita sampai ke asrama.”
“Baiklah. Semoga hasilnya memuaskan dan mendapat respon yang baik dan seperti yang diharapkan.”
Setelah aku dan kawan yang lainnya sampai, kamilangsung kembali merapikan barang-baraang dan beristirahat. Rasanya ingin sekali hari esok segera datang agr aku bisa lebih cepat untuk menulis surat untuk Bapak Presiden Indonesia.
Pagi ini aku yang biasa dibangunkan oleh Sarah ternyata bisa bangun sendiri dan lebih awal. Setelah melaksanakan kewajibanku, aku langsung mengambil kertas dan pena. Mulailah aku menggerakkan tangan dan menggoreskan tinta diatas dua lembar kertas ini.
Kulipat surat ini dan lansung kumasukkan kedalam amplop dengan prangko, kemudian menitipkan kepada pembina kamarku untuk dikirim melalui kantor pos.
Sudah tiga hari kukirim suratku, tetapi belum pula ada kabar. Tiba-tiba aku dipanggil oleh pembina, beliau bilang ada yang mencariku. Alangkah senangnya diriku ketika yang datang mencariku adalah Bapak Presiden Indonesia yang biasa dipanggil denganb panggilan bapak SBY. Kamipun berbincang-bincang di ruang tamu asramaku.
“Terima kasih ya Pak telah merelakan waktu Bapak untuk datang dan berbincang dengan saya.”
“Ya, judtru Bapak yang harus berterimakasih kepada kamu, karena karena telah memberitahu semua ini.”
“Jadi begini Pak, saat kami mengikuti kegiatan tersebut, kami melihat yang dijajakan di stand milik Negara Malaysia itu banyak yang berasal dari Indonesia.”
“Wah, itu menyedihkan sekali. Kita memang sudah lupa kepada cinta kita terhadap tanah air sendiri.”
“Benar Pak, rakyat Indonesia berani membiarkan budaya yang dimilikinya diambil oleh negara lain. Contohnya saja, bagaimana mungkin Malaysia mengetahui resep untuk memasak rendang daging sapi kalau bukan dari rakyat Indonesia itu sendiri.”
“Rakyat kita memang telah dibodohi.”
“Itulah yang kita khawatirkan Pak. Indonesia bisa hancur karena rakyat Indonesia itu pula.”
“Tapi Bapak begiru bangga. Akan adanya kalian, yang masih bisa mempertahankan cinta kalian terhadap Indonesia. Yang masih mempunyai militansi yang besar terhadap negara.”
“Itu memang kewajiban kami sebagai warga Negara Indonesia.”
“Tapi begitu banyak warga yang meninggalkan kewajiban itu. Ketika Indonesia telah terangkat namanya, mereka bersorak-sorak merasa bangga. Tetapi ketika indonesia sedang berada dibawah, bukan dukungan yang mereka berikan agar Indonesia bangkit kembali, yang mereka berikan hanya cacian dan hinaan terhadap Indonesia.”
“Jadi yang harus kita lakukan sekarang adalah mengangkat kembali kecintaan negeri yang terlupakan.”
“Tenang saja Nak, sebenarnya itu bukan tugas kamu. Ini adalah tugas Bapak sebagai Kepala Negara. Tugasmu hanyalah belajar dengan tekun agar generasi muda Indonesia selanjutnya lenih baik lagi.”
“Baiklah kepercayaan kami ditangan Bapak.”
“Ya sudah kalau begitu Bapak pamit pulang dulu yah.”
Akhirnya, sudahlah perbincanganku dengan Pak SBY. Harapanku selanjutnya, Indonesia baik secepatnya. Kejadian kemarin tak akan terulang kembali. Dan kami sebagai generasi muda Indonesia akan mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi, karena Indonesia ada di genggaman kami. Dan juga tak akan melupakan cinta kami kepada negeri ini, Indonesia.
PROFIL PENULIS
Nama : Sofiatun Nisa
TTL : Cianjur, 12 Agustus 1998
Sekolah : SMA PLUS YASPIDA SUKABUMI
Pesantren : Daarussyifa AL-Fitrah Sukabumi
Kelas : X IPA 1
Alamat : Jl. Raya Cibarusah rt 04/04 Desa Sukaresmi Kec Cikarang Selatan Kab. Bekasi.
Facebook : Sofia Finieza Niez
No. Urut : 1538
Tanggal Kirim : 06/10/2013 13:02:44
Baca juga Cerpen Sosial yang lainnya.

Posting Komentar