Mukjizat Al Quran, Fakta Ilmiah, dan Rahasia Ubun-ubun
Selasa, 22 October 2013 Tags: Mukjizat Al Quran, Fakta Ilmiah, Rahasia Ubun-ubun Views: 213

Gambar otak manusia bagian depan yang disebut Allah dalam Al Qur’an Al Karim dengan kata nashiyah (ubun-ubun).
Al-Qur’an menyifati kata nashiyah dengan kata kadzibah khathi’ah (berdusta lagi durhaka). Allah berfirman,
“(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16)
Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak
berbicara? Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak
berbuat salah?
Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang
ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau
orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe
yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau
berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”
Kemudian ia memaparkan masalah ini menurut beberapa pakar ahli. Di
antaranya adalah Prof. Keith L More yang menegaskan bahwa ubun-ubun
merupakan penanggungjawab atas pertimbangan-pertimbangan tertinggi dan
pengarah perilaku manusia. Sementara organ tubuh hanyalah prajurit yang
melaksanakan keputusan-keputusan yang diambil di ubun-ubun.
Karena itu, undang-undang di sebagian negara bagian Amerika Serikat
menetapkan sanksi gembong penjahat yang merepotkan kepolisian dengan
mengangkat bagian depan dari otak (ubun-ubun) karena merupakan pusat
kendali dan instruksi, agar penjahat tersebut menjadi seperti anak kecil
penurut yang menerima perintah dari siapa saja.
Dengan mempelajari susunan organ bagian atas dahi, maka ditemukan
bahwa ia terdiri dari salah satu tulang tengkorak yang disebut frontal
bone. Tugas tulang ini adalah melindungi salah satu cuping otak yang
disebut frontal lobe. Di dalamnya terdapat sejumlah pusat neorotis yang
berbeda dari segi tempat dan fungsinya.
Lapisan depan merupakan bagian terbesar dari frontal lobe, dan
tugasnya terkait dengan pembentukan kepribadian individu. Ia dianggap
sebagai pusat tertinggi di antara pusat-pusat konsentrasi, berpikir, dan
memori. Ia memainkan peran yang terstruktur bagi kedalaman sensasi
individu, dan ia memiliki pengaruh dalam menentukan inisiasi dan
kognisi.
Lapisan ini berada tepat di belakang dahi. Maksudnya, ia
bersembunyi di dalam ubun-ubun. Dengan demikian, lapisan depan itulah
yang mengarahkan sebagian tindakan manusia yang menunjukkan
kepribadiannya seperti kejujuran dan kebohongan, kebenaran dan
kesalahan, dan seterusnya.
Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.
Bagian inilah yang membedakan di antara sifat-sifat tersebut, dan juga memotivasi seseorang untuk bernisiatif melakukan kebaikan atau kejahatan.
♦♦♦
Ketika Prof. Keith L Moore melansir penelitian bersama kami seputar
mukjizat ilmiah dalam ubun-ubun pada semintar internasional di Kairo,
ia tidak hanya berbicara tentang fungsi frontal lobe dalam otak (ubun-ubun) manusia. Bahkan, pembicaraan merembet kepada fungsi ubun-ubun pada otak hewan dengan berbagai jenis.
Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun. Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengaruh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak.
Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah,
Ia menunjukkan beberapa gambar frontal lobe sejumlah hewan seraya menyatakan, “Penelitian komparatif terhadap anatomi manusia dan hewan menunjukkan kesamaan fungsi ubun-ubun. Ternyata, ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengaruh pada manusia, sekaligus pada hewan yang memiliki otak.
Seketika itu, pernyataan Prof. Keith mengingatkan saya tentang firman Allah,
“Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Hud: 56)
Beberapa hadits Nabi SAW yang bericara tentang ubun-ubun, seperti doa Nabi SAW,
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu…”
Juga seperti doa Nabi SAW,
“Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya…”
Juga seperti sabda Nabi SAW,
“Kuda itu diikatkan kebaikan pada ubun-ubunnya hingga hari Kiamat.”
Apabila kita menyandingkan makna nash-nash di atas, maka kita
menyimpulkan bahwa ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengendali
perilaku manusia, dan juga perilaku hewan.
Makna Bahasa dan Pendapat Para Mufasir
Allah berfirman,
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang berdusta lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 15-16)
Kata nasfa’ berarti memegang dan menarik. Sebuah pendapat
mengatakan bahwa kata ini terambil dari kalimat safa’at asy-syamsu yang
berarti matahari mengubah wajahnya menjadi hitam. Sementara kata
nashiyah berarti bagian depan kepala atau ubun-ubun.
Mayoritas mufasir menakwili ayat bahwa sifat bohong dan durhaka itu
bukan untuk ubun-ubun, melainkan untuk empunya. Sementara ulama
selebihnya membiarkannya tanpa takwil, seperti al-Hafizh Ibnu Katsir.
Dari pendapat para mufasir tersebut, jelas bahwa mereka tidak tahu
ubun-ubun sebagai pusat pengambilan keputusan untuk berbuat bohong dan
durhaka. Hal itu yang mendorong mereka untuk menakwilinya secara jauh
dari makna tekstual. Jadi, mereka menakwili shifat dan maushuf (yang
disifati) dalam firman Allah, “Ubun-ubun yang dusta lagi durhaka”
itu sebagai mudhaf dan mudhaf ilaih. Padahal perbedaan dari segi segi
bahasa antara shifat dan maushuf dengan mudhaf dan mudhaf ilaih itu
sangat jelas.
Sementara mufasir lain membiarka nash tersebut tanpa memaksakan
diri untuk memasuki hal-hal yang belum terjangkau oleh pengetahuan
mereka pada waktu itu.
♦♦♦
Sisi-Sisi Mukjizat Ilmiah
Prof. Keith L Moore mengajukan argumen atas mukjizat ilmiah ini
dengan mengatakan, “Informasi-informasi yang kita ketahui tentang fungsi
otak itu sebelum pernah disebutkan sepanjang sejarah, dan kita tidak
menemukannya sama sekali dalam buku-buku kedokteran.
Seandainya kita mengumpulkan semua buku pengobatan di masa Nabi SAW dan beberapa abad sesudahnya, maka kita tidak menemukan keterangan apapun tentang fungsi frontal lobe atau ubun-ubun.
Pembicaraan tentangnya tidak ada kecuali dalam kitab ini (al-Qur’an al-Karim). Hal itu menunjukkan bahwa ini adalah ilmu Allah yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, dan membuktikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.
Seandainya kita mengumpulkan semua buku pengobatan di masa Nabi SAW dan beberapa abad sesudahnya, maka kita tidak menemukan keterangan apapun tentang fungsi frontal lobe atau ubun-ubun.
Pembicaraan tentangnya tidak ada kecuali dalam kitab ini (al-Qur’an al-Karim). Hal itu menunjukkan bahwa ini adalah ilmu Allah yang pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, dan membuktikan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.
Pengetahuan tentang fungsi frontal lobe dimulai pada tahun
1842, yaitu ketika salah seorang pekerja di Amerika tertusuk
ubun-ubunnya stik, lalu hal tersebut memengaruhi perilakunya, tetapi
tidak membahayakan fungsi tubuh yang lain. Dari sini para dokter mulai
mengetahui fungsi frontal lobe dan hubungannya dengan perilaku seseorang.
Para dokter sebelum itu meyakini bahwa bagian dari otak manusia ini
adalah area bisu yang tidak memiliki fungsi. Lalu, siapa yang Muhammad
SAW bahwa bagian dari otak ini merupakan pusat kontrol manusia dan
hewan, dan bahwa ia adalah sumber kebohongan dan kesalahan.
Para mufasir besar terpaksa menakwili nash yang jelas bagi mereka
ini karena mereka belum memahami rahasianya, dengan tujuan untuk
melindungi Al Qur’an dari pendustaan manusia yang jahil terhadap hakikat
ini di sepanjang zaman yang lalu. Sementara kita melihat masalah ini
sangat jelas di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAW, bahwa
ubun-ubun merupakan pusat kontrol dan pengarah dalam diri orang dan
hewan.
Jadi, siapa yang memberitahu Muhammad SAW di antara seluruh umat di
bumi ini tentang rahasia dan hakikat tersebut? Itulah pengetahuan Allah
yang tidak datang kepadanya kebatilan dari arah depan dan belakangnya,
dan itu merupakan bukti dari Allah bahwa Al Qur’an itu berasal dari
sisi-Nya, karena ia diturunkan dengan pengetahuan-Nya. (berbagai sumber/ara muslim)
Posting Komentar